Google

Mencari Tulisan :
 





<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31



bujanggamanik@yahoo.co.id

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:











RSS
Atom
rss feed















Thursday, January 01, 2009
Pindah Rumah

Parapengunjung yang terhormat, mulai sedari sekarang halaman weblog Miaing pindah rumah ke halaman weblog Diary. Beberapa postingan dari halaman weblog ini ditampilkan juga di halaman weblog yang baru. Weblog Diary merupakan halaman catatan saya mengenai kehidupan pribadi saya dan keluarga. Terima kasih.

Dikirim pada 8:15 pm oleh [Candra T. Munawar]
Make a comment  

Friday, April 18, 2008
Keputusan Yang Tepat

Malam ini, saya telah berbuat yang benar, menghapus sebuah blog yang membuat saya selama ini menjadi orang munafik. Sebuah tindakan yang seharusnya jauh-jauh hari sudah saya lakukan. Sedari malam ini, saya ingin tetap istikomah di jalan yang lurus, jalan yang diridhoi oleh Allah, Ilah semesta alam.

Sudah beberapa kali saya mencoba untuk bangkit dari dunia kegelapan yang menguasai saya selama kurang lebih 10 tahun. Kesadaran untuk berubah, kembali ke jalan yang lurus, telah saya niatkan secara mantap semenjak saya memutuskan untuk menikah. Setelah menikah, niatan itu sulit sekali diwujudkan. Banyak sekali godaan yang membawa saya kembali ke dalam kesesatan. Harapan untuk tetap teguh pada niatan semula, hadir kembali ketika sitri saya mengandung. Namun, sepertinya Allah belum menghendaki. Selama istri saya sedang mengandung, saya kerap beberapa kali melakukan maksiat. Sungguh suatu usaha yang jatuh bangun dengan fluktuasi yang sangat cepat.

Keadaan mulai membaik dengan tingkat keimanan yang minimal semenjak saya menyaksikan langsung bagaimana sebuah proses melahirkan. Saya waktu itu mendapatkan goncangan yang begitu hebat. Begitu susah payahnya istri saya melahirkan. Rasa sakit dan derita selama mengandung, malam itu mencapai titik puncaknya. Bagaimana ia harus berkorban dengan nyawanya demi seorang anak, anak kami berdua. Tersadarlah ketika itu bahwa saya kini sudah menjadi seorang bapak, seorang yang harus menjadi panutan keluarganya.

Namun sayang, anak saya hanya hidup di dunia ini untuk sesaat saja. Anak saya meninggal setelah tiga hari ia dilahirkan. Saya sempat bersuudzon pada Sang Khalik, apakah Dia tidak percaya bahwa saya bisa membesarkan dan mendidiknya? Apakah saya tidak diberi kepercayaan untuk mengurusnya dikarenakan kehidupan saya yang masih labil? Apakah saya tidak cukup materi untuk menjamin keberlangsungan hidupnya sehingga Allah mengambilnya kembali? Pertanyaan-pertanyaan yang timbul karena saya waktu itu tidak menerima takdir yang telah ditentukan. Sungguh saya sangat sedih ketika itui apalagi sitri saya yang jelas-jelas merasakan bagimana susahnya ia melahirkan.

Beberapa bulan setelah kematian anak saya, saya mendapat tawaran pekerjaan untuk mengajar di sekolah yang bermuatan keislaman. Tawaran itu sungguh suatu keberuntungan untuk saya. Di samping sangat membantu keadaan finansial saya yang ketika itu sangat morat-marit, terlebih lagi pekerjaan menjadi seorang guru, apalagi menjadi guru di sekolah yang bermuatan keislaman, setidaknya akan membuat saya tetap istikomah dengan niat baik saya. Kalau saya tetap bekerja di lingkungan yang hedon dan gemerlap seperti di Jatinangor, kesempatan untuk bertobat mungkin akan kecil sekali. Maka dengan pertimbangan seperti itu saya lantas mengambil pekerjaan itu dan memutuskan untuk hijrah dari Jatinangor ke Rancaekek. Mudah-mudahan dengan suasana baru akan membuat saya seperti seorang bayi kembali yang terlahir dengan fitrah.

Beberapa lamanya waktu saya jalani kehidupan di Rancaekek dengan kadar keimanan yang masih rendah. Godaan pun mulai datang kembali dengan strategi Iblis yang sangat canggih, yaitu membuat saya menjadi orang munafik dan membuat saya merasa benar dengan tindak kejahatan yang saya perbuat karena alasan terpaksa. Saya terpaksa menjadi seorang penjual vcd porno melalui jasa internet. Dikatakan penjual sebenarnya tidak tepat juga karena pada kenyataannya hanya beberapa transaksi yang benar-benar saya kirimkan pesanannya, selebihnya adalah fiktif karena saya sama sekali tidak pernah mengirimkan barang yang dipesan walaupun uangnya sudah saya terima dan saya gunakan. Benar-benar saya orang jahat walaupun saya melakukan itu dengan terpaksa.

Ya, saya terpaksa melakukan itu mengingat uang yang dihasilkannya sangat menggiurkan dibanding dengan upah saya menjadi guru. Dengan uang dari hasil penjualan fiktif itu saya bisa menjalankan keseharian saya untuk menyelesaikan studi. Walaupun sebisa mungkin uang dari hasil tersebut tidak digunakan untuk membeli barang yang masuk ke perut, tetapi pada akhirnya seringkali sulit untuk menghindarinya. Mungkin itulah yang membuat saya selama ini seperti telah hilang arah lagi. Mencari keuntungan dari jalan yang tidak halal karena desakan materi. Sungguh saya telah berbuat dosa dan semakin menjauhkan saya dari niatan untuk bertobat. Sebab dari itu, malam ini saya memutuskan untuk menghapus salah satu blog saya yang membuat saya menjadi orang munafik. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya anak-anak didik saya tahu bagaimana sebenarnya gurunya itu, dan juga saya sangat malu pada jamaah mesjid seandainya mereka tahu bahwa salah satu jamaahnya dan salah satu murid dari ustadz di mesjid itu adalah seorang penjual vcd porno. Astagfirullohaladzim . . . .


Dikirim pada 12:39 am oleh [Candra T. Munawar]
Make a comment  

Tuesday, July 31, 2007
Learning by Doing

Besok adalah hari pertama saya mulai mengajar di SD Plus Arafah (baca: Arofah).

Sudah dua hari ini saya bolak-balik Jatinangor – Rancaekek. Hari pertama: memenuhi panggilan penawaran kerja. Waktu itu saya langsung datang ke rumah kepala sekolahnya di sore hari menjelang pukul lima: melakukan perbincangan sebagai perkenalan awal. Malam sebelumnya, sungguh tak disangka, adik angkatan saya di Jurusan Sastra Sunda UNPAD yang kebetulan teman dekat adik ipar saya menawarkan pekerjaan kepada saya sebagai tenaga pengajar sekaligus menjadi wali kelas di sekolah milik yayasan keluarganya. Serta merta tanpa berpikir panjang lagi, saya langsung menyanggupinya. Malam itu terbayang di pelupuk mata bagaimana perasaan saya ketika berdiri di hadapan kelas mengajar anak-anak. Sungguh senang rasanya, obsesi saya untuk bisa mengajar tercapai juga walau setakat mengajar di sekolah dasar. Tiba-tiba bayangan itu mulai surut berubah menjadi semacam ketidakpercayaan diri. Bagaimana tidak, saat ini saya masih dalam status belum menyelesaikan studi S1 dan lagi studi saya adalah nonkependidikan. Saya rasa tidak mudah menjadi seorang guru. Di samping harus mengetahui betul materi ajarnya, seorang guru pun dituntut untuk bisa memiliki keterampilan dalam cara menyampaikannya. Dengan demikian, seyogyanya berprofesi menjadi guru setidaknya saya harus mempunyai sertifikasi untuk mengajar (Akta 4). Namun keraguan itu cepat-cepat saya pupus sudah, kenapa saya tidak mencobanya dulu semacam learning by doing.

Saya jadi teringat pada teman seangkatan saya yang sudah lulus. Kebanyakan dari mereka rela meluangkan waktu untuk kuliah lagi beberapa bulan demi mengejar akta 4. Dengan diberlakukannya otda yang salah satu imbasnya adalah diberlakukannya mata pelajaran Basa Sunda di tingkat SMU, keputusan yang dilakukan teman-teman saya itu menjadi beralasan. Prospek kerja menjadi guru pun terbuka lebar bagi mereka. Menjadi guru berstatus PNS pada saat sekarang ini merupakan posisi yang aman demi menjaga kesinambungan hidup di kemudian hari. Katanya, kesejahteraan guru di zaman sekarang begitu diperhatikan. Semoga saja itu benar.

Hari kedua: persiapan awal dan penentuan jadwal mengajar. Saya diberi kesempatan untuk mengajar setiap hari. Mata pelajaran yang dibebankan kepada saya untuk diajarkan di semua kelas adalah mata pelajaran Basa Sunda. Di samping saya mengajar basa Sunda, saya mengajarkan pula mata pelajaran IPS untuk kelas III, IV dan VI, dan mata pelajaran Teknologi Komunikasi dan Informasi untuk kelas III, IV, V, dan VI. Semoga saya bisa menanggung beban yang dipercayakan kepada saya. Amien.

InsyaAllah kepercayaan yang telah diberikan itu akan saya jaga dengan menunjukkan kinerja yang baik karena saya merasa mampu dalam bidang itu. Namun tunggu dulu, ketika ada kesempatan berbincang-bincang dengan rekan guru-guru di sana, saya seperti tersadarkan bahwa saya harus tetap belajar walau pada bidang yang sesuai dengan studi saya. Begini ceritanya: Anggapan umum masyarakat terhadap lulusan (baca: mahasiswa) Jurusan Sastra Sunda Unpad adalah mahasiswanya dibekali dengan keterampilan dalam Seni Sunda. Sebab dengan demikian maka saya tidak heran ketika seorang guru perempuan bertanya dan sekaligus berharap bahwa saya bisa mengajarkan kepada beliau dan anak-anak didiknya bagaimana menembangkan sejumlah pupuh yang ada. Waktu itu saya tidak bisa berbuat banyak untuk menanggapinya, yang jelas saya katakan saya tidak bisa dengan dalih bahwa studi saya lain halnya dengan STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) atau juga ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) yang nota bene mengajarkan salah satunya seni Sunda termasuk bagaimana menembangkan sejumlah pupuh yang ada dalam khazanah budaya Sunda seperti Pupuh Sinom, Asmarandana, Dangdanggula, dan Kinanti. Memang pada tahun ketiga saya kuliah sempat diberlakukannya mata kuliah Apresiasi Seni yang meliputi tiga bidang seni yaitu Karawitan, Tari dan Teater dan kemudian tahun ajaran sekarang kebijakan pimpinan di Jurusan memberikan porsi yang sangat menomorsatukan seni Sunda menyisihkan studi wajibnya sendiri seperti Sastra, Linguistik, dan Filologi, namun pada akhirnya kemampuan mahasiswa termasuk saya dalam seni Sunda hanya sebatas permukaan saja tidak lantas menjadi seorang yang ahli. Saya rasa kebijakan yang sekarang pantas dikenai peribahasa Cul dog-dog tinggal igel atau moro julang ngaleupaskeun peusing. Yang wajib disunatkan, yang sunat diwajibkan yang semuanya itu demi memenuhi kehendak masyarakat yang beranggapan bahwa lulusan Jurusan Sastra Sunda Unpad adalah seorang ahli seni Sunda.


Dikirim pada 11:54 pm oleh [Candra T. Munawar]
Comments (3)  

Tuesday, April 24, 2007
Buat Candra

Di bawah adalah catatan kali ke tiga yang saya temukan dari istri saya, diam-diam ternyata istriku ketika kami masih pacaran dulu sempat menuliskan beberapa catatan penting ikhwal hubungan kami berdua. Catatan di bawah ditulis pada tanggal 15 April 2006.

 

Buat Candra

Maaf sebelumnya klo saya tidak bicara langsung mengenai hal ini. Ada sesuatu yang dapat saya saya utarakan langsung, ada juga yang hanya dapat saya ungkapkan dengan sprt ini.

Mmh ... mungkin ini adalah lukisan terhadap apa yang saya rasakan selama ini, ya  ... mengenai banyak hal dalam hubungan kita. Mungkin saya adalah orang yang dapat menahan persasaan, kalau boleh jujur, terkadang saya ingin pergi jau...h dari semua ini. Kadang juga saya ingin sekali membalas semua perlakuan kamu yang tidak adil terhadap saya. Dulu saya merasa sangat terhina dan teramat teraniaya, saya memendam kesakitan yang teramat sakit itu sendiri. Saya mengadu pada-Nya untuk ketidakadilan itu.

Saya hampir gila, mungkin

menjelang akan gila!

Saya mencoba untuk bersabar dan mencoba untuk mengambil hikmah dari semua ini. Saya rasa ada sesuatu di balik semua ini. Saya selalu berdo'a suatu keajaiban akan terjadi, sedikit demi sedikit harapan saya terwujud. Saya percaya, meski dengan jalan yang seperti ini, yang menurut orang lain tidak mungkin, itu akan sangat mungkin terjadi. Karena Dia sangat berkuasa untuk menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi terjadi. I Believe it.

Kadang saya merasa sangat sakit, sangat sedih jika melihat latar belakang kamu. Perempuan mana yang tidak ingin mendapatkan pasangan yang lebih baik dari dirinya, yang bisa menjadi imam, menjadi panutan. Tapi entah kenapa, keyakinan saya kuat sekali untuk mempercayai bahwa suatu saat kamu akan berubah dari “semua itu”. Insya Allah.

Hari ini tanggal 15 April, tepat 1 tahun yang lalu di mana pertama kalinya saya berbuat “Z”. Saya pernah pula merasa sakit hati atas tuduhan kamu terhadap saya. Saya memohon “agar kamu meyakini sendiri bahwa tuduhan terhadap saya itu tidak benar.” Saya sungguh tidak percaya Allah menyeru keluhan hamba-Nya meski ia berlumpur dengan dosa.

Saya maafkan kamu!

Saya maafkan atas semua yang pernah kamu perbuat terhadap saya. Hanya saya tidak tau saya bertahan berapa lama untuk memberikan maaf lagi. Seandainya suatu saat terjadi, saya sudah tidak kuat lagi mungkin tanpa kamu sadari saya akan pergi dan saya berharap jika itu terjadi, saya tidak ingin dipertemukan lagi.

Tapi, saya berharap itu semua tidak pernah terjadi!

Dengan keadaan kamu yang seperti saat ini, saya harap kamu berbesar hati dan tidak lantas menjadi terhasut godaan syetan, untuk menghalalkan apapun dengan cara yang mudah.

Kamu harus ingat bahwa “kemiskinan terkadang membuat orang menjadi kufur.” Tapi itu bagi orang yang lemah iman.

Saya percaya kamu tidak seperti itu!

Saya merasakan apa yang kamu rasa, karna saya pernah mengalaminya.

Bahkan lebih dari kamu.

Saya berharap kamu tidak meninggalkan sholat, meski sebetulnya q-ta “tidak layak bersujud kepada-Nya.”

Saya sayang kamu

Tyna Cattar


Dikirim pada 10:44 pm oleh [Candra T. Munawar]
Comments (2)  

Tuesday, April 03, 2007
Catatan Duka Itu: Istriku

Sunday, 11 March '07

 

Hari ini tepat hari ke tujuh bayi kecilku pergi. Setiap kali aku ingat, air mata ini selalu saja tidak dapat aku bendung. Betapa tidak, dulu aku selalu membawanya di dalam perutku ke manapun aku pergi. Hingga saat yang sangat aku tunggu, yaitu hari kelahirannya ke dunia. Dua hari, ... ya hanya dua hari saja bayi kecilku dapat bertahan hidup. Itu pun dengan bantuan infus dan oksigen. Aku masih ingat sekali ketika ia membuka matanya. Ia begitu lucu, tapi sayang aku tak sempat untuk menggendongnya. Bahkan hingga saat ini aku masih ingat ketika ia memandangku. Dan itu terakhir kali aku melihatnya. Terkadang aku seperti mendengar suara tangisnya yang kecil. Itu semua takkan pernah aku lupa sampai kapan pun.

Satu kesalahan terbesarku ialah aku melahirkan di sini. Padahal sejak dari awal aku tahu kalau bayiku tidak ingin dilahirkan di sini. Ah ..., andai saja waktu dapat berputar kembali, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mungkin aku tidak akan merasa bersalah sekali.

Aku hanya dapat berharap, seandainya aku dipercaya kembali oleh Allah untuk mempunyai anak lagi, semoga aku dapat memenuhi semua keinginan anakku, termasuk untuk tidak melahirkan lagi di sini. Aku juga berharap semoga aku dapat lebih protect, lebih extra care, tidak banyak yang dipikirin, tidak banyak ngebatin, tidak banyak air mata yang keluar, nggak stres. Pokoknya lebih care pada bayiku dari pada siapa pun.

Aku juga berharap, semoga dari semua kejadian ini, suamiku diberikan taufiq dan hidayah juga sadar diri bagaimana memperlakukan seorang perempuan, terlebih ketika hamil, melahirkan, mengurus anak .....

Ya Allah semoga taufiq dan hidayah Engkau berikan itu berlangsung untuk selamanya hingga ajal merenggut, bukan untuk sesaat ini saja.

Ya Allah, aku percaya atas semua kekuasaan-Mu, kebaikan-Mu juga mukzizat-Mu. Aku percaya akan rencana-Mu itu terbaik untukku. Sejak awal aku telah memiliki firasat, bahwa bayiku yang akan menyadarkan ayahnya untuk kembali kepada-Mu. Aku telah menduga itu ya Allah. Maka dari itu terimalah bayiku sebaik-baiknya di sisi-Mu. Amien.


Dikirim pada 10:02 pm oleh [Candra T. Munawar]
Make a comment  

Next Page

|| KOROPAK || MIAING || LINGUISTIK || SASTRA || FILOLOGI || NARASI || PUITIKA || PEPERENIAN || SCHOLAR ||


modified template by Candra T. Munawar since Agustus 2006
from the original template by blogdrive design